Tanda Merah

Siang hari, melawan kantuk. Kami berlarian sebelum guru itu memanggil untuk masuk. Ada yang sudah basah karena keringat sebabharus berlari saling berkejaran. Dunia anak-anak. Pakaian kami ada yang lusuh., ada yang sedikit rapi dengan kantung dibagian bawah sejajar pinggang. Pakaian koko itu juga tak lagi putih karena (mungkin) waktu itu pemutih ber-merk itu tak menganggap kampung kami ada dalam jangkauan pemasarannya.

Masih teringat dengan fatwa konyol dari temanku ketika aku menjatuhkan kitab suci itu. Ia menyuruhku untuk bersujud sebanyak tiga kali dimana kitab itu kujatuhkan. Tanpa pikir panjang, tanah kuning bekas timbunan itu pun menjadi sajadah alam bagiku. Sekali lagi, inilah dunia anak.

Kenangan tentang dunia pengajian. Mulai dari pengenalan menggunakan buku tipis yang kami kenal dengan “aleb-aleb”*, hingga mengaji dengan sempurna sampai menggunakan irama yang diajarkan oleh seorang tengku (ustad).

Sesekali, tak jarang kumpulan lidi yang dicocang mampir ditangan kami ketika kami melakukan kesalahan dalam bacaan. Anehnya, pernah satu waktu orang tua kami berada disana, tapi mereka tak membela kami, atau melarang tengku itu untuk melabuhkan senjata ampuhnya itu ditelapak tangan kami, inilah pembelajaran. Inilah suasana pendidikan nonformal gratis.

Namun, ibarat padi, kuningnya sudah kelihatan. Hasil pun dapat dituai. Hingga kini teman-teman sepengajian itu, mampu membaca kitab itu dengan sempurna. Bahkan, ada yang sudah menghafalnya.

Satu cara penggemblengan yang sempurna.

Sebuah cermin paradoks. Tak hanya di perkotaan. Kini, dikehidupan desa pun amat banyak penduduk diusia muda yang tak mampu bahkan tak mengenal isi kitab suci itu. Sebuah pengaruh yang masuknya tak terasa. Amat halus. Dengan suntikan trend, budaya dan gaya hidup yang kini semakin berbeda. Lambat laun, semuanya berubah.

Ingin rasanya kembali. Waktu dimana keringat itu belum lagi kering, tapi telapak tangan sudah berbentuk tanda merah.

Sakit, tapi bermakna.

No comment »

Sakit

Fenomena itu seperti tak masuk akal. Tampak samar tapi ada. Bertanda mistik tapi masih dipercaya. Dalam tiga minggu ini tak sedikit rupiah yang diraup orang-orang di perkampungan itu. Ponari, bocah kecil yang sekarang bak mesin pencetak ratusan bahkan miliaran rupiah bagi keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Mulanya ia adalah bocah biasa. Bermain layaknya anak-anak lain yang menjadi temannya. Dalam hitungan hari, kini ia (katanya) menjadi sakti. Hanya dengan batu kuning digenggamannya. Mengguncang Jombang dengan puluhan ribu warga yang sudi antre berbaris demi mencari rasa kesembuhan “instan” dari tangan sakti dukun cilik itu.

Bukan hanya itu. Beritanya juga mencuri perhatian masyarakat negeri ini. Mulai dari Komnas Perlindungan Anak yang menuntut kebebasan dukun yang masih bocah itu, hingga menyita waktu para manusia “super” di lembaga perwakilan rakyat yang sebagian sedang sibuk untuk kembali menebar pesona kepada masyarakat yang telah siap menanti janji-janji seperti beberapa tahun silam. Karena tak dapat dielakkan empat orang pun harus meregang nyawa karena panjangnya antrean demi mendapat berkah batu sakti itu.

Memang, kekuatan bocah kecil yang mereka percaya itu tak bisa dianggap remeh. Bagi mereka yang sakit bertahun-tahun, hanya berharap kesembuhan. Mereka yang berada disekeliling dukun Ponari, tentu menjadi ladang rezeki yang tak terduga kalau memang tak pantas dikatakan lahan bisnis bagi mereka. Mulai dari penjaga keamanan kampung, para penyedia tenda dan pondokan, perparkiran, sampai kepada orang yang mengendong dan yang menggerak-gerakkan tangan Ponari kedalam wadah air itu pasti menikmati rupiah yang dihasilkan kesaktian Ponari itu.

Namun, kalau ditilik lebih jauh. Inilah masyarakat sekarang. Semakin tak dapat dimengerti kalau memang bukan gila. Percaya hanya dengan genggaman batu dapat menyembuhkan penyakit. Percaya atau terpaksa? Apa karena mahalnya biaya pengobatan ? atau karena rendahnya kwalitas tenaga medis yang tidak mampu menangani penyakit yang telah lama melekat bersama mereka?

Hingga tulisan ini, telah muncul satu saingan dari Ponari si dukun cilik itu. Entah untuk sebuah popularitas, atau sebuah kepentingan yang dipandang sebatas keperluan ekonomi dari segelintir pihak.

Kembali, satu lagi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Untuk menyembuhkan orang-orang yang jiwanya sedang sakit dengan batu kesadaran sebenarnya.

No comment »

Pilihan

Wajahnya peluh, dengan tubuh kurus kering, matanya seperti ditekan kedalam dan mengembung dipinggir berwarna hitam bertanda tidak cukupnya mata itu dipejamkan. Dibawah pondok itu, disamping pematang yang ditumbuhi padi-padi yang dalam hitungan minggu akan menguning. Dengan pakaian lusuh, satu demi satu rumput itu ia lumatkan untuk makanan sapi yang berada disamping rumahnya itu.

Padahal, aku masih ingat. Jarak usia kami tak terlalu jauh. Ketika duduk di bangku sekolah tingkat dasar dulu. Ia kakak kelasku. Sering kami bermain bola sepak, bertaruh ratusan rupiah. “bertempur” diatas terik untuk sebuah harga diri bagi kami kala itu, menang taruhan.

Tapi kini, ia seperti orang tua bagiku. Hidup dengan seorang istri dan dua orang anak. Berjuang dengan keringat. Bekerja dari satu pematang ke pematang lainnya. Terkadang menyemai, satu waktu memanen. Diselang waktu mengikuti langkah kemana ayunan paculnya akan ia labuhkan. Dengan jasanya, ia menukar peluh itu dengan rupiah dari orang-orang yang merasa berlebih.

Bukan anjuran memang. Ia menekuni apa yang ia lakukan sekarang ini. Ia berjuang demi sebuah tanggung jawab. Ia menjadi kepala keluarga sekarang. Dulu, bisa jadi ia ingin meneruskan sekolahnya. Tapi aku bisa merasakan bagaimana keinginan itu terenggut oleh keadaan yang mereka alami. Bukan hanya dia, banyak dari orang-orang disekelilingku yang kini berkerja sebagai kuli panggul meski profesi petani yang lebih dominan. Profesi yang menuntut kesabaran yang amat tinggi.

Satu waktu, aku bersyukur. Tuhan memberiku sedikit lebih dari mereka. Tampak dari senyum dan raut air muka setiap kuhampiri mereka. Seakan-akan menaruh harap padaku. Kelak, siapa tahu.. aku bisa mengajak mereka bersamaku untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Bukankah Tuhan selalu ada bersama mereka?

Bisa jadi, ini memang takdir. Tapi bagiku takdir itu adalah pilihan yang telah dibuat kemudian ditentukan.

Disela-sela tumbukan tumpukan rumput itu semakin lumat. Aku teringat, panggilan hatiku semakin jelas. Ya, untuk mereka. Mungkin ini takdirku,pilihanku. Mungkin.

No comment »

Pesan

Tak lebih dari lima menit pagi itu. Matahari masih lagi belum menunjukkan cahaya senyumnya. Memang waktu yang tepat untuk membugarkan badan dan ragawi. Beberapa kali salam, ketukan demi ketukan. Ternyata wanita tua itu belum lagi terjaga sempurna. Nek Jamin, ia kupanggil.

Kawan, kalau engkau ingin tahu tentang Nek Jamin, bolehkan aku berbagi cerita denganmu sekarang. Tentang wanita tua yang kini semakin renta dibawa zaman.

Kalau dikaji lebih dalam, tentu aku tak memiliki pertalian darah dengannya. Namun, ketika aku kecil dulu, rumahku bedekatan dengan rumah kecilnya sekarang.Setelah beberapa tahun ditinggal mati suaminya. Kini ia hidup bersama seorang cucu. Kadar kesehatannya pun tak lagi sempurna. Mulai dari mata yang tak lagi jelas memandang, sampai lutut yang tak mampu lagi menahan tubuh yang telah menua.

Setiap kali aku “mudik”, kusempatkan untuk menyinggahinya. Sekedar untuk bercengkrama, menyambung nadi persaudaraan. Tak jarang beberapa lembar ringit kertas puluhan ribu kuberikan disela-sela cerita kami yang tak panjang. Setiap pemberian, tak lepas santun puji dan syukur ke haribaanNya. Inilah Nek Jamin.

Tentunya apa yang diberikan Nek Jamin dan keluarganya kala itu, tak akan mampu kutandingi dengan beberapa lembaran ringit yang sekarang menyelip di pawak (kain sarung yang dikenakan sebagai pengganti terusan baju) kanannya setiap aku datang ke rumah kecil itu.

Kawan, aku begitu dekat dengan wanita itu. Karena sebuah ingatan yang tak pernah lekang di benak ini. Disana, dirumah kecil itu. Terakhir aku melihat ayahandaku, terbaring kaku dan mengakhiri hayatnya. Disudut ruang yang hingga kini tak berubah.Dinding yang bertempel koran tahun 90-an itu masih melekat disana.

Kenangan itu begitu melekat. terasa ia hadir kembali. Ketika aku terjaga dari tidurku. Dipangkuan Ibuku. Deru tangis beberapa orang. Meratapi kepergian anak, abang, adik, keponakan, cucu, juga ayah bagiku. Masih buram bagiku saat itu. Padahal, aku didudukkan bersama jenazah ayahku yang kemudian akan dimandikan diwaktu subuh.

Semoga, rumah kecil ini dapat mengingatkanku akan kenangan indah itu. Pertemuan sekaligus perpisahan. Antara anak dan ayah, semoga.

No comment »

(sampai kapan pun) aku sayang dia

Aku lupa waktu tepatnya. Sejak aku tak lagi memberi salam-cium di punggung tangan kanannya. Aku juga lupa tanggal pastinya, ketika aku tak lagi memberitahukan berapa nilai yang kudapat di sekolah sewaktu aku duduk di bangku sekolah dasar waktu itu.

Mungkin, aku dan adikku tak seberuntung anak-anak kebanyakan kala itu. Kami hanya dibesarkan oleh kasih sayang seorang ibu. Ayah kami telah lebih dulu berada ditempat terindah ketika kami balita. Hanya kami tak pernah merasa kehilangan. Perempuan yang hingga kini tetap cantik itu terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan kami. Mulai dari makanan, hingga pola pendidikan yang moralis telah ia tanamkan sejak dulu kepada kami berdua.

Hingga kini sapaanku tiada pernah berubah. Aku memanggilnya”mamak”. Tak populer memang. Namun inilah sapaan sayangku kepadanya. Sapaan termulia yang tertanam disanubari ini.

Kawan, tulisan ini kupersembahkan kepada setiap orang yang masih mencintai perempuan itu. Perempuan yang bibirnya tak pernah kelu, selalu basah. Zikir hati berdegup seirama jantung hanya berharap agar kita, anak-anaknya dapat menjadi lebih baik dari dirinya pada kondisi sekarang ini.

Jahilku dimasa kecil, kupastikan dapat membuat semua orang berang. Kecuali satu perempuan itu. Menerimaku apa adanya. Hingga aku ditempa di pendidikan agama. Terus berpindah dari satu kota ke kota yang lain mengikuti irama langkah tingkatan pendidikanku.

Meski jarang bertemu. Tak berarti hubunganku dengannya lekang. Malah sebaliknya. Dari waktu ke waktu, kami menjadi saling memahami. Puncak kerinduan pun terkadang tak terbendung. Seperti ia ingin memelukku. Begitu juga aku, ingin aku kembali kepadanya untuk mencium punggung tangan kanannya itu.

Pernah, dihari ulang tahunnya (waktu itu ia pun lupa). Momen yang mungkin bagi orang lain biasa. Tapi bagi kami berdua begitu memesona. Di perantauan ini, aku berbicara dengannya. Panjang. Tentang segala hal. Sampai dipenghujung cerita kutanyakan padanya kalau kedua anaknya kini sudah dewasa.

Dari suaranya, aku dapat menggambarkan suasana batinnya yang membahana. Seakan bangga tapi lebih pantas kalau dikatakan bahagia. Seakan tak percaya, ia telah melangkah jauh. Menggandeng kami kemana ia pergi. Inilah hubungan transcendence , hubungan dua hati, anak-ibu.

sesaat aku tersenyum. terbang menerawang masa depan. ingin kubagikan cerita indah ini kepada teman hidupku nanti. kupertemukan ia dengan perempuan tangguh ini. kuberi ia sejarah, bagaimana keringat dan darahnya telah membesarkanku, hingga dapat menjadi bagian darinya.

Sampai kupatrikan tulisan ini, rinduku padanya semakin memuncak. Mengalir tanpa henti, bertiup kencang menghempas segalanya. Kuputuskan untuk menunda semua langkah rutinitasku.

Esok, aku akan kembali untuknya, mamak.

Comments (1) »

Mimpi

Siang itu langit kelabu. Satu persatu air dari langit turun, hujan. Kian lama kian deras. Aku pun tidak dapat melaju dengan sepeda motor itu. Aku terkurung di studio itu.

Sesekali kulihat ponselku. Menohok angka digital yang menunjukkan waktu. Memastikan kalau aku masih punya waktu untuk mengerjakan desain baru itu dikamar kos ku.

Kuputuskan untuk melangkah, “ayo…. kawan!” kupacu kuda besiku. Kupotong arah jalan, agar pintas aku melintas. Tampak mobil berat kuning melaju kencang. Aku mengelak, selamat. Kali ini lain lagi, aku berhadapan dengan mobil tanki berwarna biru, pasti ini pasokan minyak dari salah satu perusahaan.

Aku menepi, berjalan pelan. Deras hujan ini membuat pandanganku sedikit kabur dengan helm berkaca rayban. Sesaat aku seperti tak percaya, tercengang fana. Aku melihat sesuatu yang besar seperti tembok pembatas yang tinggi. Menghadang.. Rasanya tepat dibelakang kamar kos ku disana.

Aku memutar Honda itu, kembali ke studio “datang lagi…lagiii….” ku pacu dengan gas tinggi, tak peduli hari itu jalan licin karena jilatan air hujan. “Lailahaillallah…..Lailahaillallah…..” teriakku.

Sepertinya baru kali ini aku tau dahsyatnya bencana itu. Aku sadar kenapa ini dikatakan bencana terdahsyat. ia menyapu, meluluhlantak, habis, lapang. Beginikah rasanya dihempas, dibenam, diputar ombak. didalam air itu, aku ikut bergulung, pasrah… tak berdaya.

Aku terjaga, aku bermimpi.

Dalam beberapa saat, aku tak bergerak. Mengingat kembali bagaimana kuatnya hempasan itu. Meski hanya mimpi, tapi hatiku dapat merasakan, ini nyata.

Mimpi, yang membangunkanku dari hayalku. Terjaga dari saat-saat hidupku yang kian jauh. Benar apa kata orang bijak dulu, kebenaran tak hanya disampaikan oleh lisan yang kering tak lagi basah. Tapi ia bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah mimpi.

Ateisku,.. Alpaku,… Berhalaku,… hilang terhempas bersama mimpi air bah itu.

Sejenak aku berpikir, rencana Allah itu begitu indah. Hari itu membuatku sakit kepala yang memaksaku harus istirahat siang itu. Ia ingin membagiku sesuatu lewat mimpi itu. Ia ingin bercerita padaku. Kalau hanya Ia yang kupanggil kala itu. bukan keluarga, bukan harta, tapi Dia yang Esa, Allah.

Meski beberapa kali aku lupa padaNya. Walau sering aku sengaja melalaikan apa yang diperintahkanNya, Dia tetap sayang padaku. Mengajariku,… Lewat mimpi.

No comment »

satu langkah untuk sebuah perjalanan panjang

akhirnya kawan,

sedikit upaya dari kami untuk menunjukkan kami ini juga saudara mereka. satu langkah agar mereka dapat merasakan apa yang kita upayakan. meski sedikit, semoga mampu menyambung nafas dari waktu ke waktu. walau yang dikorbankan hanya sebatas materi, karena kami belum siap untuk berkorban darah dan jiwa seperti mereka disana.

akhirnya kawan, melalui NEKAD Prodctn, dan PINDIG medan. kita dapat meluangkan sedikit rupiah dari ratusan lembaran biru didalam kantong kita. mungkin, kami hanya dapat membayarnya dengan benda ,kecil yang bisa jadi tak memberi arti.. tapi semog dapat menggerakkan, InsyaAllah.

No comment »

Satu titik kesaksian (the truth of fiction)

“ummi..ummii….ummiiii…”

teriak Faris kecil itu.Tampak ia mengerang kesakitan. Kepala yang berdarah
karena tertimpa bongkahan bangunan yang gempuran pasukan Artileri Darat Israel
itu. Hingga saat ini darah segar itu tak kunjung berhenti mengalir dari wajah
polos Faris kecil.

Ibunya kini
hanya terdiam kaku, bisu, seperti mayat hidup yang hanya bisa melihat Faris. Mungkin dapat dimaklumi apa yang dirasakan ibu satu anak itu. Baru kemarin musibah besar itu datang. Suaminya, yang seorang pedagang buah itu terpaksa harus meregang nyawa dengan tragis.

Memang ia tak melihatnya, kemarin ia sedang memeriksa kandungannya ke Rumah sakit Nablus. Karena hanya disana ada dokter kandungan. namun kejadian itu diceritakan oleh Abu Laila, tetangga mereka yang sesama penjual buah dipasar Gaza.

Saat agresor biadab itu menyerang, semua orang berlari berhamburan. Abu Faris mencoba berlari, tapi sayang, Abu Faris terkena peluru dibagian kaki. Abu Laila bersembunyi di gang Syamil, dekat toko kain milik Hajj Maleek. Ia melihat ulah biadab bala tentara Israel itu terhadap Abu Faris. Kaki yang berdarah itu diinjak.

Kepala abu Faris dihantam hampir tujuh kali dengan gagang senjata buatan Amerika itu.

Bahkan Sayeed Fadel, anak Hajj Maleek mengatakan Abu Faris meregang nyawa kala mereka memukul yang keempat kalinya bagian belakang kepalanya. Bukan hanya itu, kala Abu Faris syahid, ia juga ditembak beberapa kali dibagian dada. Sepertinya hanya untuk memastikan apakah ia sudah tewas atau belum. Sadis.

Ummu Faris tersadar dari lamunannya. ia melihat Faris sudah dalam gendongan orang yang tak dikenalnya. Dengan rompi putih bertuliskan ; MER-C.

“Faris…Farisss..Fariss….
mau kau bawa kemana anakku tuan ? jangan kau ambil…. “

“tidak ibu, ibu tenang saja.. dia akan….” Belum selesai paramedis itu menyempurnakan kalimatnya. Satu peluru mendarat di dadanya.

“Allahu akbar..”
Ummu Faris berteriak.

Tentara laknat itu tampaknya menembak siapa saja dengan senjata jarak jauh.

Ia memeluk Faris. Dan berlari menuju gang Syamil.

“ummi.. Faris takut ummii… ummi… Faris takuuut…”

“tenanglah sayang, kali ini tentara biadab itu tak akan melukaimu sayang..” Faris kecil tampak tak menghiraukan plasebo yang diberikan ibunya.

“ummi.. Faris takuuttt….”

“tenang sayang…cup..cuuppp…cuuupppp…”

Kali ini rayuan umminya ampuh. Faris tampak tenang. Mereka bersembunyi dibalik tumpukan sampah pasar. Sesekali Ummu Faris melirik keluar gang. Memastikan tentara itu menjauh dari mereka.

Sesaat, pandangan ibu muda itu teralihkan pada sebuah titik. Ya, tempat dimana suaminya biasa berjualan. Pikirnya menerawang. Akalnya terbang. Ia merasa fana. Kini ia menyaksikan sendiri darah suaminya itu masih lagi basah. Darah itu belum terbang dibawa panas. Darah itu masih merah.

“ummiii… mereka datang ummi..”

Ummu Faris terjaga dari lamunnya. Tampak tiga pria bersenjata lengkap bercorak bintang david biru dikepalanya mendekati tempat mereka bersembunyi.

Tanpa pikir panjang, Faris kecil tampak mengerti bahasa isyarat ibunya. Faris naik ke pundak ibu yang sedang hamil tua itu. Tangannya merengkuh tumpukan sampah. Mencari benda yang sedikit keras. Ia menemukan botol kaca bertuliskan alhambra syirup yang sedikit lusuh.

“Allahuakbar….” Ummu
Faris menghadang tiga pria bersenjata itu kemudian melempar botol itu.

“prannnngggg,……” tepat diwajah salah satu tentara botol itu pecah. Ia pun ambruk.

Dengan sigap,
dua tentara laknat itu melepaskan satu peluru tepat dibagian dada ibu hamil
itu. Peluru itu begitu kuat, hingga membuat Ummu Faris berputar.

Dan seorang
tentara lagi menembak bagian belakang Ummu Faris, namun meleset. Kali ini punggung Faris yang mengeluarkan darah segar.

Anak dan Ibu itu ambruk. Tersungkur. Faris tetap berada didalam gendongan ibunya. Dan mereka terbujur tepat dilantai pasar Gaza yang masih basah, dengan warna merah. Tempat dimana Abu Faris menjadi syuhada.

No comment »

Savana Merah Muda (cerita cinta 2)

Biarkan aku kawan! biarkan aku melepas lelah di padang ini. Disekelilingnya terhampar tanaman cinta. Pohon-pohon kasih menjulang tinggi. Kupu-kupu asmara terbang dengan manja. Deru laskar angin membawa kabar terindah yang pernah kurasakan dinginnya. Inilah tempat itu kawan, savana merah muda.

Bukan aku mengada-ngada kawan. Dusta hanya akan menjadi petaka bagi si pembawa cerita kelak. Kendati mampu berkelit, aku tak akan lupa kata mereka; Setinggi tupai melompat, pasti jatuh juga.

Izinkan aku kawan! Izinkan aku menggambarkan pesona ajaib ini. Savana ini bak syah bandar di sebuah kerajaaan. Menjadi perhentian sementara bagi para saudagar. Bak pohon perteduhan bagi para pejuang, pejuang cinta kawan.

Inilah satu lagi tahapan kawan! Tahapan untuk menemukan permata itu. Permata Ruby yang elok nan rupawan itu.

Bolehkah aku kembali berkisah kawan? Hatiku kini gundah. Gundah gulana bagai ombak yang bergoyang deras tanpa tahu kemana. Yang berhujung pada buritan di penghujung daratan. Tapi kawan, aku merasa sungkan untuk bercerita padamu. Pantaskah seorang pejuang sepertiku mencurahkan asa didalam kata sebuah cerita ? Tapi biarlah! Akan kucoba.

Permata itu kawan, kini semakin menjadi cerita nyata kawan. Ketakutanku muncul kala seseorang menanyakan itu padaku. “tunggu apa lagi..??” Kalimat yang membuat gairahku semakin memuncak. Darah pejuangku naik turun tak terkendalikan kala ia sambung dengan gertakan “nanti diambil orang…”

Kawan, biarkan aku yang memutuskan. Aku perlu waktu untuk merenungi, aku perlu kesempatan kawan. Siapa yang tak mau untuk mendapatkannya ? Kurang apa aku hingga sampai di padang savana merah muda ini? Dari padang ini, aku harus meneruskan langkah. Dari savana ini pula aku harus bertaruh dan bertarung demi segenggam permata ruby. kamu, Cinta…

vini vidi vici, Allah loves us.

(Aku butuh kepastianmu Cinta… agar kelak, kita bisa melangkah bersama)

No comment »

cerita Cinta

Mungkin, baru kali ini aku bercerita tentang cinta padamu kawan. Tentang seorang gadis yang sekarang ada dihatiku. Tak layak kuhadiahkan lagu I Luv yu Beibi The Changcuter. Kalau pun pantas, biarkan Sempurna suara merdu Gita Gutawa, si Diva kecil itu yang mengiringi.

Ya, sekali lagi. Ini benar-benar cinta. Pesona merekah bak melati yang mewangi. Inilah cinta, semakin jauh, terasa dekat. Kala merindu, jutaan kalimah puji dapat terus menghiasi. Didalam risau, biarkan aku yang menjadi tawananmu kawan karena kupastikan, cinta itu yang akan menghiburmu.

Kuakui kawan, mungkin aku tak segila Majnun kepada Laila. Aku pula tak senekat Romeo dan Juliet. Aku biarkan cinta ini mekar ditaman hati. Aku semai bibit kasih itu agar kelak aku bisa menuainya.

Tak ada yang mampu membendung anugerah ini. coba lihat kawan! Sang kaisar pun rela melepas tahtanya demi sang Cleopatra. Pesona Margaret mampu meluluhkan negara adidaya kala itu ditangan Napoleon. Bahkan Skandal The President pun tak pernah lepas dari secuil cinta wanita yahudi itu.

“Allah loves us”. Kalimah ajaib yang bisa membuatkanku melupakan duka. Segala duka. Tahukah engkau kawan siapa yang mengucapkan itu padaku ? Disetiap pesan singkat kala itu tak pernah lupa akan karakter indah itu. Cinta kawan, Cinta yang menitipkan kalimah itu.

Pemersatu cinta segitiga bagiku. Penghubung dua tahta, langit dan bumi bagi dirimu. Sebagai tongkat dikegelapanku. Dan sebagai plasebo bagi kegilaanku. Meski kini waktu belum memberi izin kawan.

Tahukah engkau kawan. Cerita ini kubuatkan untukmu. Engkau yang sekarang di padang hikmah. Yang terus belajar demi cahaya asa di masa depan. Bisa jadi, suatu saat kita tak bersatu. Tapi hatiku, tak akan melewatkan hari-hariku untuk mengingatmu. dan sekarang, aku juga sedang melintasi zamrud itu. untuk menemukan permata ruby yang menjadi incaran para pemburu sepertiku. permata itu kamu, Cinta

untukmu, Cinta.

Meski tembok itu masih tampak tinggi bagiku.

Comments (2) »