Tanda Merah
Siang hari, melawan kantuk. Kami berlarian sebelum guru itu memanggil untuk masuk. Ada yang sudah basah karena keringat sebabharus berlari saling berkejaran. Dunia anak-anak. Pakaian kami ada yang lusuh., ada yang sedikit rapi dengan kantung dibagian bawah sejajar pinggang. Pakaian koko itu juga tak lagi putih karena (mungkin) waktu itu pemutih ber-merk itu tak menganggap kampung kami ada dalam jangkauan pemasarannya.
Masih teringat dengan fatwa konyol dari temanku ketika aku menjatuhkan kitab suci itu. Ia menyuruhku untuk bersujud sebanyak tiga kali dimana kitab itu kujatuhkan. Tanpa pikir panjang, tanah kuning bekas timbunan itu pun menjadi sajadah alam bagiku. Sekali lagi, inilah dunia anak.
Kenangan tentang dunia pengajian. Mulai dari pengenalan menggunakan buku tipis yang kami kenal dengan “aleb-aleb”*, hingga mengaji dengan sempurna sampai menggunakan irama yang diajarkan oleh seorang tengku (ustad).
Sesekali, tak jarang kumpulan lidi yang dicocang mampir ditangan kami ketika kami melakukan kesalahan dalam bacaan. Anehnya, pernah satu waktu orang tua kami berada disana, tapi mereka tak membela kami, atau melarang tengku itu untuk melabuhkan senjata ampuhnya itu ditelapak tangan kami, inilah pembelajaran. Inilah suasana pendidikan nonformal gratis.
Namun, ibarat padi, kuningnya sudah kelihatan. Hasil pun dapat dituai. Hingga kini teman-teman sepengajian itu, mampu membaca kitab itu dengan sempurna. Bahkan, ada yang sudah menghafalnya.
Satu cara penggemblengan yang sempurna.
Sebuah cermin paradoks. Tak hanya di perkotaan. Kini, dikehidupan desa pun amat banyak penduduk diusia muda yang tak mampu bahkan tak mengenal isi kitab suci itu. Sebuah pengaruh yang masuknya tak terasa. Amat halus. Dengan suntikan trend, budaya dan gaya hidup yang kini semakin berbeda. Lambat laun, semuanya berubah.
Ingin rasanya kembali. Waktu dimana keringat itu belum lagi kering, tapi telapak tangan sudah berbentuk tanda merah.
Sakit, tapi bermakna.




