tak perlu kaya, yang penting punya makna
perenungan yang terus berlarut. dari waktu ke waktu. aku terus berpikir. apa yang kucari sekarang ini ? hari-hari berkumpul minggu, minggu-minggu menyatu bulan, dan belasan bulan pun berkumpul dalam tahun terus terpikir olehku. benarkah langkahku selama ini ?
21 tahun. memang kurasa belum cukup untuk segalanya. terlalu jauh untuk dari kata matang. terlalu dini untuk dicap dewasa. tapi inilah titik awal dari segalanya.biarkan aku mencoba…
era kebijaksanaan telah lahir. nurani manusia di dunia semakin kilat terasah. disebagian belahan, tampak kemiskinan berkurang ditangan segelintir pahlawan tak dikenal. disatu sisi lain, sekolah-sekolah anak jalanan didirikan oleh perempuan-perempuan yang dikatakan lemah. disatu tempat lagi cuma sebatas seremoni oleh seorang yang bisa dikatakan “tidak menjual”, namun mampu menggugah orang banyak disebuah negeri.
aku berpikir. ya, mereka sudah mulai. tak ada harta, mereka memberi dengan tenaga. yang tak punya tenaga, mereka berharap dengan asa.
anak-anak itu butuh sekolah untuk merubah kehidupan mereka kelak. si sakit papa itu perlu obat yang tak mampu ia beli. si tua renta itu perlu tongkat untuk menahan tulangnya yang lunglai.
tuhan pun seperti berbisik padaku. “lihatlah langit hambaku…! seluruh dunia Ku payungi dengannya. Ku cukupkan sinar untuk bertumbuh. ku turunkan air agar semua bisa berbenih. inilah maha kebijaksanaanKu. lantas, dimana sedikit kebijaksanaan yang Kuberikan padamu?”
teringat mimpiku ingin memberi sedikit arti bagi orang lain. jiwaku kembali menggelora untuk kembali kesana. ya, aku harus kembali. kembali untuk impianku. seperti mereka yang telah lebih dulu memulai untuk dunia.
dunia membutuhkanku.
dunia menantiku untuk berbuat, apa lagi yang ku tunggu..?!



