Archive for December, 2008

Satu titik kesaksian (the truth of fiction)

“ummi..ummii….ummiiii…”

teriak Faris kecil itu.Tampak ia mengerang kesakitan. Kepala yang berdarah
karena tertimpa bongkahan bangunan yang gempuran pasukan Artileri Darat Israel
itu. Hingga saat ini darah segar itu tak kunjung berhenti mengalir dari wajah
polos Faris kecil.

Ibunya kini
hanya terdiam kaku, bisu, seperti mayat hidup yang hanya bisa melihat Faris. Mungkin dapat dimaklumi apa yang dirasakan ibu satu anak itu. Baru kemarin musibah besar itu datang. Suaminya, yang seorang pedagang buah itu terpaksa harus meregang nyawa dengan tragis.

Memang ia tak melihatnya, kemarin ia sedang memeriksa kandungannya ke Rumah sakit Nablus. Karena hanya disana ada dokter kandungan. namun kejadian itu diceritakan oleh Abu Laila, tetangga mereka yang sesama penjual buah dipasar Gaza.

Saat agresor biadab itu menyerang, semua orang berlari berhamburan. Abu Faris mencoba berlari, tapi sayang, Abu Faris terkena peluru dibagian kaki. Abu Laila bersembunyi di gang Syamil, dekat toko kain milik Hajj Maleek. Ia melihat ulah biadab bala tentara Israel itu terhadap Abu Faris. Kaki yang berdarah itu diinjak.

Kepala abu Faris dihantam hampir tujuh kali dengan gagang senjata buatan Amerika itu.

Bahkan Sayeed Fadel, anak Hajj Maleek mengatakan Abu Faris meregang nyawa kala mereka memukul yang keempat kalinya bagian belakang kepalanya. Bukan hanya itu, kala Abu Faris syahid, ia juga ditembak beberapa kali dibagian dada. Sepertinya hanya untuk memastikan apakah ia sudah tewas atau belum. Sadis.

Ummu Faris tersadar dari lamunannya. ia melihat Faris sudah dalam gendongan orang yang tak dikenalnya. Dengan rompi putih bertuliskan ; MER-C.

“Faris…Farisss..Fariss….
mau kau bawa kemana anakku tuan ? jangan kau ambil…. “

“tidak ibu, ibu tenang saja.. dia akan….” Belum selesai paramedis itu menyempurnakan kalimatnya. Satu peluru mendarat di dadanya.

“Allahu akbar..”
Ummu Faris berteriak.

Tentara laknat itu tampaknya menembak siapa saja dengan senjata jarak jauh.

Ia memeluk Faris. Dan berlari menuju gang Syamil.

“ummi.. Faris takut ummii… ummi… Faris takuuut…”

“tenanglah sayang, kali ini tentara biadab itu tak akan melukaimu sayang..” Faris kecil tampak tak menghiraukan plasebo yang diberikan ibunya.

“ummi.. Faris takuuttt….”

“tenang sayang…cup..cuuppp…cuuupppp…”

Kali ini rayuan umminya ampuh. Faris tampak tenang. Mereka bersembunyi dibalik tumpukan sampah pasar. Sesekali Ummu Faris melirik keluar gang. Memastikan tentara itu menjauh dari mereka.

Sesaat, pandangan ibu muda itu teralihkan pada sebuah titik. Ya, tempat dimana suaminya biasa berjualan. Pikirnya menerawang. Akalnya terbang. Ia merasa fana. Kini ia menyaksikan sendiri darah suaminya itu masih lagi basah. Darah itu belum terbang dibawa panas. Darah itu masih merah.

“ummiii… mereka datang ummi..”

Ummu Faris terjaga dari lamunnya. Tampak tiga pria bersenjata lengkap bercorak bintang david biru dikepalanya mendekati tempat mereka bersembunyi.

Tanpa pikir panjang, Faris kecil tampak mengerti bahasa isyarat ibunya. Faris naik ke pundak ibu yang sedang hamil tua itu. Tangannya merengkuh tumpukan sampah. Mencari benda yang sedikit keras. Ia menemukan botol kaca bertuliskan alhambra syirup yang sedikit lusuh.

“Allahuakbar….” Ummu
Faris menghadang tiga pria bersenjata itu kemudian melempar botol itu.

“prannnngggg,……” tepat diwajah salah satu tentara botol itu pecah. Ia pun ambruk.

Dengan sigap,
dua tentara laknat itu melepaskan satu peluru tepat dibagian dada ibu hamil
itu. Peluru itu begitu kuat, hingga membuat Ummu Faris berputar.

Dan seorang
tentara lagi menembak bagian belakang Ummu Faris, namun meleset. Kali ini punggung Faris yang mengeluarkan darah segar.

Anak dan Ibu itu ambruk. Tersungkur. Faris tetap berada didalam gendongan ibunya. Dan mereka terbujur tepat dilantai pasar Gaza yang masih basah, dengan warna merah. Tempat dimana Abu Faris menjadi syuhada.

No comment »

Savana Merah Muda (cerita cinta 2)

Biarkan aku kawan! biarkan aku melepas lelah di padang ini. Disekelilingnya terhampar tanaman cinta. Pohon-pohon kasih menjulang tinggi. Kupu-kupu asmara terbang dengan manja. Deru laskar angin membawa kabar terindah yang pernah kurasakan dinginnya. Inilah tempat itu kawan, savana merah muda.

Bukan aku mengada-ngada kawan. Dusta hanya akan menjadi petaka bagi si pembawa cerita kelak. Kendati mampu berkelit, aku tak akan lupa kata mereka; Setinggi tupai melompat, pasti jatuh juga.

Izinkan aku kawan! Izinkan aku menggambarkan pesona ajaib ini. Savana ini bak syah bandar di sebuah kerajaaan. Menjadi perhentian sementara bagi para saudagar. Bak pohon perteduhan bagi para pejuang, pejuang cinta kawan.

Inilah satu lagi tahapan kawan! Tahapan untuk menemukan permata itu. Permata Ruby yang elok nan rupawan itu.

Bolehkah aku kembali berkisah kawan? Hatiku kini gundah. Gundah gulana bagai ombak yang bergoyang deras tanpa tahu kemana. Yang berhujung pada buritan di penghujung daratan. Tapi kawan, aku merasa sungkan untuk bercerita padamu. Pantaskah seorang pejuang sepertiku mencurahkan asa didalam kata sebuah cerita ? Tapi biarlah! Akan kucoba.

Permata itu kawan, kini semakin menjadi cerita nyata kawan. Ketakutanku muncul kala seseorang menanyakan itu padaku. “tunggu apa lagi..??” Kalimat yang membuat gairahku semakin memuncak. Darah pejuangku naik turun tak terkendalikan kala ia sambung dengan gertakan “nanti diambil orang…”

Kawan, biarkan aku yang memutuskan. Aku perlu waktu untuk merenungi, aku perlu kesempatan kawan. Siapa yang tak mau untuk mendapatkannya ? Kurang apa aku hingga sampai di padang savana merah muda ini? Dari padang ini, aku harus meneruskan langkah. Dari savana ini pula aku harus bertaruh dan bertarung demi segenggam permata ruby. kamu, Cinta…

vini vidi vici, Allah loves us.

(Aku butuh kepastianmu Cinta… agar kelak, kita bisa melangkah bersama)

No comment »

cerita Cinta

Mungkin, baru kali ini aku bercerita tentang cinta padamu kawan. Tentang seorang gadis yang sekarang ada dihatiku. Tak layak kuhadiahkan lagu I Luv yu Beibi The Changcuter. Kalau pun pantas, biarkan Sempurna suara merdu Gita Gutawa, si Diva kecil itu yang mengiringi.

Ya, sekali lagi. Ini benar-benar cinta. Pesona merekah bak melati yang mewangi. Inilah cinta, semakin jauh, terasa dekat. Kala merindu, jutaan kalimah puji dapat terus menghiasi. Didalam risau, biarkan aku yang menjadi tawananmu kawan karena kupastikan, cinta itu yang akan menghiburmu.

Kuakui kawan, mungkin aku tak segila Majnun kepada Laila. Aku pula tak senekat Romeo dan Juliet. Aku biarkan cinta ini mekar ditaman hati. Aku semai bibit kasih itu agar kelak aku bisa menuainya.

Tak ada yang mampu membendung anugerah ini. coba lihat kawan! Sang kaisar pun rela melepas tahtanya demi sang Cleopatra. Pesona Margaret mampu meluluhkan negara adidaya kala itu ditangan Napoleon. Bahkan Skandal The President pun tak pernah lepas dari secuil cinta wanita yahudi itu.

“Allah loves us”. Kalimah ajaib yang bisa membuatkanku melupakan duka. Segala duka. Tahukah engkau kawan siapa yang mengucapkan itu padaku ? Disetiap pesan singkat kala itu tak pernah lupa akan karakter indah itu. Cinta kawan, Cinta yang menitipkan kalimah itu.

Pemersatu cinta segitiga bagiku. Penghubung dua tahta, langit dan bumi bagi dirimu. Sebagai tongkat dikegelapanku. Dan sebagai plasebo bagi kegilaanku. Meski kini waktu belum memberi izin kawan.

Tahukah engkau kawan. Cerita ini kubuatkan untukmu. Engkau yang sekarang di padang hikmah. Yang terus belajar demi cahaya asa di masa depan. Bisa jadi, suatu saat kita tak bersatu. Tapi hatiku, tak akan melewatkan hari-hariku untuk mengingatmu. dan sekarang, aku juga sedang melintasi zamrud itu. untuk menemukan permata ruby yang menjadi incaran para pemburu sepertiku. permata itu kamu, Cinta

untukmu, Cinta.

Meski tembok itu masih tampak tinggi bagiku.

Comments (2) »

TEKONG TENGAH

Kecil dimanja, remaja disayang, kelak dewasa takkan pernah diabaikan. Ini bukan cerita tentang manusia yang makin hari makin menjadi kawan. Ini cerita tentang kisahku padamu. Meski hatiku kesal, tapi jiwaku masih mampu bersabar, itu karenamu. Sewaktu mataku dangkal dari lubuk masalah itu, tapi akalku masih segar untuk membuat sebuah keputusan yang tak perlu tiga kali ketukan palu. Itu karenamu, kawan.

Tega nian kau berlaku begitu. Mungkin kealpaanku memberitahumu tentang akhlak dalam bermain kawan. Berjalan dengan waktu, bergandengan dengan nasib. Lupa kukatakan, kalau ada pasal yang yang begitu kukuh tertanam. Wajib berlaku untuk setiap keadaan. Kukatakan dengan lantang padamu untuk sekali ini kawan ; JANGAN MAIN TEKONG TENGAH!

Kau lupa berapa orang yang bisa terluka dan terbelah dua. Perasaan yang hampir memiliki pupus karena langkahmu yang terus menjadi. Tahukah engkau kawan, kalau etika itu adalah tongkat kendali untuk sebuah kreta. Bisa mengatur tarikan kuda, baik cepat atau pun lambat.

Cerita ini sudah lama kudengar kawan. Ya, tentangmu. Tentang jurus TEKONG TENGAH mu yang banyak membuat mereka kecewa. Cukuplah apa yang ada ditanganmu. Kalau memang roti temanmu lebih besar, relakanlah! Karena tak mungkin semua roti dapat memenuhi isi perutmu.

Hingga kisahku ini ku patrikan dalam untaian kalimat. Kau memukulku dengan jurus TEKONG TENGAH mu! Aduh!

(Benar apa kata Nabi, untuk melihat kawan, salah satunya dengan sebuah proses bisnis denganmu)

Comments (2) »

kecupan hangat belasan tahun lalu…

Bibirnya basah, suara sayup sayu yang mengiringi. Terkadang bunyi hilang ditelan malam. Dipanjatkannya doa yang konon ia yakini menjadi obat dari keletihannya setelah seharian bekerja.

Ia lepas mukenah putih itu. Ia menoreh ke belakang.Tampak dua putranya sedang tertidur lelap. Si sulung yang kelihatan sehat dengan tubuhnya yang tembun. Lain lagi dengan si bungsu. Entah karena terbawa nasib dan keadaan ia tampak sedikit kurus.

Ia pun membaringkan tubuhnya, mencoba untuk memejamkan mata. Berharap pikiran-pikiran sampah tak perlu menyinggahinya. Biarlah waktu berlalu. Lakukan apa yang memang perlu dilakukan. Mungkin ini satu aturan bagi seorang janda muda yang ditinggal oleh suami.

Sekali lagi ia menatap kedua putranya. wajah letih terasa hilang. Segala masalah seakan-akan terbang. Ia labuhkan satu kecupan untuk si bungsu yang berada disampingnya. Ia menggeser bantal guling yang berada disamping si bungsu. Satu kecupan cinta ia labuhkan juga untuk si sulung.

(Aku masih merasakan kecupan itu, meski telah belasan tahun berlalu. Ibu muda itu akan selalu muda, dan akan terus mulia bagi diriku, dan adikku.)

Arbi Hadi, M.Vp ,Si Sulung.

No comment »

panglima itu masih hijau

Khalifah pertama itu mulai berpikir tentang tawaran dari beberapa sahabat. Setelah disampaikan dua belas titik pemberontakan yang terjadi. Abu Bakar As Shiddiq r.a. mulai berpikir mencari solusi. Beberapa ide cemerlang dan pendapat disampaikan. Akhirnya keputusan pun sampai dipenghujung, mereka harus diperangi. Mulai dari nabi palsu, hingga kepada orang-orang yang enggan membayar zakat.

Ada yang menarik dari kisah memesona itu. Seorang sahabat datang melaporkan bahwa kala itu umat Islam kekurangan prajurit perang. Hingga sebuah usulan agar pasukan untuk menghadapi Romawi yang dikirim oleh Rasulullah kala itu untuk ditarik.

Ada kemungkinan mereka akan kalah, karena pasukan dibawah pimpinan panglima perang Usamah bin Zaid yang masih hijau (19 tahun). Maka dari itu sahabat minta pasukan itu ditarik. Dan mereka pun dapat membantu pasukan muslimin untuk memerangi nabi palsu dan kaum yang anti zakat.

Dengan lembutnya santun dan kokohnya wibawa, sang Khalifah menolak ajakan pendapat itu. “Pasukan itu… Rasulullah yang telah mengirimnya, Panglima itu, Rasul saw. pula yang memilihnya… tidak mungkin aku melanggar apa yang telah Rasul saw. lakukan…” Memang benar apa yang dikatakan Rasul, selalu dibenarkan oleh As Shiddiq.

Bahkan rasul saw. pernah mengatakan : Kalau iman Abu Bakar diletakkan dalam satu timbangan, dan disatu sisi diletakkan iman seluruh umat manusia dari permulaan hingga akhir zaman. Maka timbangan ini tidak akan pernah mengungguli timbangan iman Abu Bakar.

Singkat cerita, Khalifah itu pun berhasil memenangi keduabelas pemberontakan itu. Dan Romawi pun, kekaisaran terbesar dan terkuat pun harus tunduk kepada kekuatan panji Islam kala itu. Rasul memilih Usamah bin Zaid menjadi panglima perang, bukanlah sebuah pilihan yang salah. Semangat Usamah yang berapi-api. Kemampuan perangnya pun mumpuni.

Bahkan sewaktu menghadapi perang melawan Romawi, sang Jenderal kecil diminta pulang agar tidak merusak perang keduanya. Namun ia mengatakan dengan lantang kalau ia adalah sang Jenderal, sang Panglima perang laskar muslimin.

Konon, teori perang dan semangat perangnya kini menjadi dasar dari pendidikan di sekolah militer Amerika Serikat di Westpoint. Inilah pemuda. Di raut wajahnya tergambar nasib negeri dimasa yang akan datang. Disegala tindakannya, memberi pengaruh bagi kemajuan sebuah peradaban.

Bahkan Khalifah kedua umat Islam, tak akan mengeluarkan sebuah kebijakan sebelum ada pendapat dari para pemuda.

Comments (1) »

Pesan Abadi Dari Budak Sarah (refleksi Hari Qurban)

Dalam waktu yang lama, tak dapat dibayangkan. Dihamparan padang gersang. Di jazirah yang orang pun tiada pernah tahu itu dimana. Bukan karena itu daerah impian, atau tempat yang telah dijanjikan.

Wanita gelap itu terus berkeliling antara Safa dan Marwah. Hanya untuk mencari air. Siang terik, dan hanya ditemani seorang bayi kecilnya, Ismail. Ia relakan kepergian sang suami yang meninggalkan mereka berdua  karena perintah Tuhannya.

Dialah Sarah. Perempuan budak hitam, isteri kedua dari Nabi Ibrahim, si bapak para nabi. Dizaman sekarang, tentunya orang berpikir berkali-kali untuk mempersuntingnya. Dengan kulit hitam, wajah pun tak terlalu cantik. Namun yang menjadi kebanggaan adalah, dirahimnya telah tertanam benih kenabian dari Ibrahim. Dan kelak, anaknya juga akan menjadi seorang Nabi yang menghulu dari para nabi berikutnya.

Ia tidak patah aral. Ia yakin janji Tuhannya. Ia berhenti sejenak, namun anaknya menangis semakin menjadi karena kehausan. Si bayi terus menghentak-hentakkan kakinya ke tanah berpasir di padang itu. Dan disinilah tangan Tuhan pun bekerja. Keluarlah air bersih dari tanah yang dihentakkan si Ismail kecil. Hingga kelak dinamakan air Zam Zam.

Sebuah kisah yang memesona zaman. Hikmah yang ditinggalkan pun begitu besar. Pencarian yang panjang. Yang menggambarkan keegoan manusia untuk kebutuhannya harus dibakar untuk kepentingan yang lain (Ismail yang kehausan).

Sikap pantang menyerah diajarkan. Jauh dari kata putus asa. Harapan si budak hitam legam Sarah  terus dikejar meski itu fatamorgana. Inilah kehidupan. Sering apa yang kita cari ternyata bukan pada apa yang sedang kita tekuni.

Ismail memberi ajaran kepada Ibunda tercintanya. Kalau air itu ada dibawah hentakan kakinya. Dan kisah itu kelak diabadikan dalam bagian ritual Haji yang dilakukan seluruh umat di seluruh dunia.

Comments (2) »