Satu titik kesaksian (the truth of fiction)
“ummi..ummii….ummiiii…”
teriak Faris kecil itu.Tampak ia mengerang kesakitan. Kepala yang berdarah
karena tertimpa bongkahan bangunan yang gempuran pasukan Artileri Darat Israel
itu. Hingga saat ini darah segar itu tak kunjung berhenti mengalir dari wajah
polos Faris kecil.
Ibunya kini
hanya terdiam kaku, bisu, seperti mayat hidup yang hanya bisa melihat Faris. Mungkin dapat dimaklumi apa yang dirasakan ibu satu anak itu. Baru kemarin musibah besar itu datang. Suaminya, yang seorang pedagang buah itu terpaksa harus meregang nyawa dengan tragis.
Memang ia tak melihatnya, kemarin ia sedang memeriksa kandungannya ke Rumah sakit Nablus. Karena hanya disana ada dokter kandungan. namun kejadian itu diceritakan oleh Abu Laila, tetangga mereka yang sesama penjual buah dipasar Gaza.
Saat agresor biadab itu menyerang, semua orang berlari berhamburan. Abu Faris mencoba berlari, tapi sayang, Abu Faris terkena peluru dibagian kaki. Abu Laila bersembunyi di gang Syamil, dekat toko kain milik Hajj Maleek. Ia melihat ulah biadab bala tentara Israel itu terhadap Abu Faris. Kaki yang berdarah itu diinjak.
Kepala abu Faris dihantam hampir tujuh kali dengan gagang senjata buatan Amerika itu.
Bahkan Sayeed Fadel, anak Hajj Maleek mengatakan Abu Faris meregang nyawa kala mereka memukul yang keempat kalinya bagian belakang kepalanya. Bukan hanya itu, kala Abu Faris syahid, ia juga ditembak beberapa kali dibagian dada. Sepertinya hanya untuk memastikan apakah ia sudah tewas atau belum. Sadis.
Ummu Faris tersadar dari lamunannya. ia melihat Faris sudah dalam gendongan orang yang tak dikenalnya. Dengan rompi putih bertuliskan ; MER-C.
“Faris…Farisss..Fariss….
mau kau bawa kemana anakku tuan ? jangan kau ambil…. “
“tidak ibu, ibu tenang saja.. dia akan….” Belum selesai paramedis itu menyempurnakan kalimatnya. Satu peluru mendarat di dadanya.
“Allahu akbar..”
Ummu Faris berteriak.
Tentara laknat itu tampaknya menembak siapa saja dengan senjata jarak jauh.
Ia memeluk Faris. Dan berlari menuju gang Syamil.
“ummi.. Faris takut ummii… ummi… Faris takuuut…”
“tenanglah sayang, kali ini tentara biadab itu tak akan melukaimu sayang..” Faris kecil tampak tak menghiraukan plasebo yang diberikan ibunya.
“ummi.. Faris takuuttt….”
“tenang sayang…cup..cuuppp…cuuupppp…”
Kali ini rayuan umminya ampuh. Faris tampak tenang. Mereka bersembunyi dibalik tumpukan sampah pasar. Sesekali Ummu Faris melirik keluar gang. Memastikan tentara itu menjauh dari mereka.
Sesaat, pandangan ibu muda itu teralihkan pada sebuah titik. Ya, tempat dimana suaminya biasa berjualan. Pikirnya menerawang. Akalnya terbang. Ia merasa fana. Kini ia menyaksikan sendiri darah suaminya itu masih lagi basah. Darah itu belum terbang dibawa panas. Darah itu masih merah.
“ummiii… mereka datang ummi..”
Ummu Faris terjaga dari lamunnya. Tampak tiga pria bersenjata lengkap bercorak bintang david biru dikepalanya mendekati tempat mereka bersembunyi.
Tanpa pikir panjang, Faris kecil tampak mengerti bahasa isyarat ibunya. Faris naik ke pundak ibu yang sedang hamil tua itu. Tangannya merengkuh tumpukan sampah. Mencari benda yang sedikit keras. Ia menemukan botol kaca bertuliskan alhambra syirup yang sedikit lusuh.
“Allahuakbar….” Ummu
Faris menghadang tiga pria bersenjata itu kemudian melempar botol itu.
“prannnngggg,……” tepat diwajah salah satu tentara botol itu pecah. Ia pun ambruk.
Dengan sigap,
dua tentara laknat itu melepaskan satu peluru tepat dibagian dada ibu hamil
itu. Peluru itu begitu kuat, hingga membuat Ummu Faris berputar.
Dan seorang
tentara lagi menembak bagian belakang Ummu Faris, namun meleset. Kali ini punggung Faris yang mengeluarkan darah segar.
Anak dan Ibu itu ambruk. Tersungkur. Faris tetap berada didalam gendongan ibunya. Dan mereka terbujur tepat dilantai pasar Gaza yang masih basah, dengan warna merah. Tempat dimana Abu Faris menjadi syuhada.