Savana Merah Muda (cerita cinta 2)
Biarkan aku kawan! biarkan aku melepas lelah di padang ini. Disekelilingnya terhampar tanaman cinta. Pohon-pohon kasih menjulang tinggi. Kupu-kupu asmara terbang dengan manja. Deru laskar angin membawa kabar terindah yang pernah kurasakan dinginnya. Inilah tempat itu kawan, savana merah muda.
Bukan aku mengada-ngada kawan. Dusta hanya akan menjadi petaka bagi si pembawa cerita kelak. Kendati mampu berkelit, aku tak akan lupa kata mereka; Setinggi tupai melompat, pasti jatuh juga.
Izinkan aku kawan! Izinkan aku menggambarkan pesona ajaib ini. Savana ini bak syah bandar di sebuah kerajaaan. Menjadi perhentian sementara bagi para saudagar. Bak pohon perteduhan bagi para pejuang, pejuang cinta kawan.
Inilah satu lagi tahapan kawan! Tahapan untuk menemukan permata itu. Permata Ruby yang elok nan rupawan itu.
Bolehkah aku kembali berkisah kawan? Hatiku kini gundah. Gundah gulana bagai ombak yang bergoyang deras tanpa tahu kemana. Yang berhujung pada buritan di penghujung daratan. Tapi kawan, aku merasa sungkan untuk bercerita padamu. Pantaskah seorang pejuang sepertiku mencurahkan asa didalam kata sebuah cerita ? Tapi biarlah! Akan kucoba.
Permata itu kawan, kini semakin menjadi cerita nyata kawan. Ketakutanku muncul kala seseorang menanyakan itu padaku. “tunggu apa lagi..??” Kalimat yang membuat gairahku semakin memuncak. Darah pejuangku naik turun tak terkendalikan kala ia sambung dengan gertakan “nanti diambil orang…”
Kawan, biarkan aku yang memutuskan. Aku perlu waktu untuk merenungi, aku perlu kesempatan kawan. Siapa yang tak mau untuk mendapatkannya ? Kurang apa aku hingga sampai di padang savana merah muda ini? Dari padang ini, aku harus meneruskan langkah. Dari savana ini pula aku harus bertaruh dan bertarung demi segenggam permata ruby. kamu, Cinta…
vini vidi vici, Allah loves us.
(Aku butuh kepastianmu Cinta… agar kelak, kita bisa melangkah bersama)