Archive for January, 2009

(sampai kapan pun) aku sayang dia

Aku lupa waktu tepatnya. Sejak aku tak lagi memberi salam-cium di punggung tangan kanannya. Aku juga lupa tanggal pastinya, ketika aku tak lagi memberitahukan berapa nilai yang kudapat di sekolah sewaktu aku duduk di bangku sekolah dasar waktu itu.

Mungkin, aku dan adikku tak seberuntung anak-anak kebanyakan kala itu. Kami hanya dibesarkan oleh kasih sayang seorang ibu. Ayah kami telah lebih dulu berada ditempat terindah ketika kami balita. Hanya kami tak pernah merasa kehilangan. Perempuan yang hingga kini tetap cantik itu terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan kami. Mulai dari makanan, hingga pola pendidikan yang moralis telah ia tanamkan sejak dulu kepada kami berdua.

Hingga kini sapaanku tiada pernah berubah. Aku memanggilnya”mamak”. Tak populer memang. Namun inilah sapaan sayangku kepadanya. Sapaan termulia yang tertanam disanubari ini.

Kawan, tulisan ini kupersembahkan kepada setiap orang yang masih mencintai perempuan itu. Perempuan yang bibirnya tak pernah kelu, selalu basah. Zikir hati berdegup seirama jantung hanya berharap agar kita, anak-anaknya dapat menjadi lebih baik dari dirinya pada kondisi sekarang ini.

Jahilku dimasa kecil, kupastikan dapat membuat semua orang berang. Kecuali satu perempuan itu. Menerimaku apa adanya. Hingga aku ditempa di pendidikan agama. Terus berpindah dari satu kota ke kota yang lain mengikuti irama langkah tingkatan pendidikanku.

Meski jarang bertemu. Tak berarti hubunganku dengannya lekang. Malah sebaliknya. Dari waktu ke waktu, kami menjadi saling memahami. Puncak kerinduan pun terkadang tak terbendung. Seperti ia ingin memelukku. Begitu juga aku, ingin aku kembali kepadanya untuk mencium punggung tangan kanannya itu.

Pernah, dihari ulang tahunnya (waktu itu ia pun lupa). Momen yang mungkin bagi orang lain biasa. Tapi bagi kami berdua begitu memesona. Di perantauan ini, aku berbicara dengannya. Panjang. Tentang segala hal. Sampai dipenghujung cerita kutanyakan padanya kalau kedua anaknya kini sudah dewasa.

Dari suaranya, aku dapat menggambarkan suasana batinnya yang membahana. Seakan bangga tapi lebih pantas kalau dikatakan bahagia. Seakan tak percaya, ia telah melangkah jauh. Menggandeng kami kemana ia pergi. Inilah hubungan transcendence , hubungan dua hati, anak-ibu.

sesaat aku tersenyum. terbang menerawang masa depan. ingin kubagikan cerita indah ini kepada teman hidupku nanti. kupertemukan ia dengan perempuan tangguh ini. kuberi ia sejarah, bagaimana keringat dan darahnya telah membesarkanku, hingga dapat menjadi bagian darinya.

Sampai kupatrikan tulisan ini, rinduku padanya semakin memuncak. Mengalir tanpa henti, bertiup kencang menghempas segalanya. Kuputuskan untuk menunda semua langkah rutinitasku.

Esok, aku akan kembali untuknya, mamak.

Comments (1) »

Mimpi

Siang itu langit kelabu. Satu persatu air dari langit turun, hujan. Kian lama kian deras. Aku pun tidak dapat melaju dengan sepeda motor itu. Aku terkurung di studio itu.

Sesekali kulihat ponselku. Menohok angka digital yang menunjukkan waktu. Memastikan kalau aku masih punya waktu untuk mengerjakan desain baru itu dikamar kos ku.

Kuputuskan untuk melangkah, “ayo…. kawan!” kupacu kuda besiku. Kupotong arah jalan, agar pintas aku melintas. Tampak mobil berat kuning melaju kencang. Aku mengelak, selamat. Kali ini lain lagi, aku berhadapan dengan mobil tanki berwarna biru, pasti ini pasokan minyak dari salah satu perusahaan.

Aku menepi, berjalan pelan. Deras hujan ini membuat pandanganku sedikit kabur dengan helm berkaca rayban. Sesaat aku seperti tak percaya, tercengang fana. Aku melihat sesuatu yang besar seperti tembok pembatas yang tinggi. Menghadang.. Rasanya tepat dibelakang kamar kos ku disana.

Aku memutar Honda itu, kembali ke studio “datang lagi…lagiii….” ku pacu dengan gas tinggi, tak peduli hari itu jalan licin karena jilatan air hujan. “Lailahaillallah…..Lailahaillallah…..” teriakku.

Sepertinya baru kali ini aku tau dahsyatnya bencana itu. Aku sadar kenapa ini dikatakan bencana terdahsyat. ia menyapu, meluluhlantak, habis, lapang. Beginikah rasanya dihempas, dibenam, diputar ombak. didalam air itu, aku ikut bergulung, pasrah… tak berdaya.

Aku terjaga, aku bermimpi.

Dalam beberapa saat, aku tak bergerak. Mengingat kembali bagaimana kuatnya hempasan itu. Meski hanya mimpi, tapi hatiku dapat merasakan, ini nyata.

Mimpi, yang membangunkanku dari hayalku. Terjaga dari saat-saat hidupku yang kian jauh. Benar apa kata orang bijak dulu, kebenaran tak hanya disampaikan oleh lisan yang kering tak lagi basah. Tapi ia bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah mimpi.

Ateisku,.. Alpaku,… Berhalaku,… hilang terhempas bersama mimpi air bah itu.

Sejenak aku berpikir, rencana Allah itu begitu indah. Hari itu membuatku sakit kepala yang memaksaku harus istirahat siang itu. Ia ingin membagiku sesuatu lewat mimpi itu. Ia ingin bercerita padaku. Kalau hanya Ia yang kupanggil kala itu. bukan keluarga, bukan harta, tapi Dia yang Esa, Allah.

Meski beberapa kali aku lupa padaNya. Walau sering aku sengaja melalaikan apa yang diperintahkanNya, Dia tetap sayang padaku. Mengajariku,… Lewat mimpi.

No comment »

satu langkah untuk sebuah perjalanan panjang

akhirnya kawan,

sedikit upaya dari kami untuk menunjukkan kami ini juga saudara mereka. satu langkah agar mereka dapat merasakan apa yang kita upayakan. meski sedikit, semoga mampu menyambung nafas dari waktu ke waktu. walau yang dikorbankan hanya sebatas materi, karena kami belum siap untuk berkorban darah dan jiwa seperti mereka disana.

akhirnya kawan, melalui NEKAD Prodctn, dan PINDIG medan. kita dapat meluangkan sedikit rupiah dari ratusan lembaran biru didalam kantong kita. mungkin, kami hanya dapat membayarnya dengan benda ,kecil yang bisa jadi tak memberi arti.. tapi semog dapat menggerakkan, InsyaAllah.

No comment »