(sampai kapan pun) aku sayang dia
Aku lupa waktu tepatnya. Sejak aku tak lagi memberi salam-cium di punggung tangan kanannya. Aku juga lupa tanggal pastinya, ketika aku tak lagi memberitahukan berapa nilai yang kudapat di sekolah sewaktu aku duduk di bangku sekolah dasar waktu itu.
Mungkin, aku dan adikku tak seberuntung anak-anak kebanyakan kala itu. Kami hanya dibesarkan oleh kasih sayang seorang ibu. Ayah kami telah lebih dulu berada ditempat terindah ketika kami balita. Hanya kami tak pernah merasa kehilangan. Perempuan yang hingga kini tetap cantik itu terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan kami. Mulai dari makanan, hingga pola pendidikan yang moralis telah ia tanamkan sejak dulu kepada kami berdua.
Hingga kini sapaanku tiada pernah berubah. Aku memanggilnya”mamak”. Tak populer memang. Namun inilah sapaan sayangku kepadanya. Sapaan termulia yang tertanam disanubari ini.
Kawan, tulisan ini kupersembahkan kepada setiap orang yang masih mencintai perempuan itu. Perempuan yang bibirnya tak pernah kelu, selalu basah. Zikir hati berdegup seirama jantung hanya berharap agar kita, anak-anaknya dapat menjadi lebih baik dari dirinya pada kondisi sekarang ini.
Jahilku dimasa kecil, kupastikan dapat membuat semua orang berang. Kecuali satu perempuan itu. Menerimaku apa adanya. Hingga aku ditempa di pendidikan agama. Terus berpindah dari satu kota ke kota yang lain mengikuti irama langkah tingkatan pendidikanku.
Meski jarang bertemu. Tak berarti hubunganku dengannya lekang. Malah sebaliknya. Dari waktu ke waktu, kami menjadi saling memahami. Puncak kerinduan pun terkadang tak terbendung. Seperti ia ingin memelukku. Begitu juga aku, ingin aku kembali kepadanya untuk mencium punggung tangan kanannya itu.
Pernah, dihari ulang tahunnya (waktu itu ia pun lupa). Momen yang mungkin bagi orang lain biasa. Tapi bagi kami berdua begitu memesona. Di perantauan ini, aku berbicara dengannya. Panjang. Tentang segala hal. Sampai dipenghujung cerita kutanyakan padanya kalau kedua anaknya kini sudah dewasa.
Dari suaranya, aku dapat menggambarkan suasana batinnya yang membahana. Seakan bangga tapi lebih pantas kalau dikatakan bahagia. Seakan tak percaya, ia telah melangkah jauh. Menggandeng kami kemana ia pergi. Inilah hubungan transcendence , hubungan dua hati, anak-ibu.
sesaat aku tersenyum. terbang menerawang masa depan. ingin kubagikan cerita indah ini kepada teman hidupku nanti. kupertemukan ia dengan perempuan tangguh ini. kuberi ia sejarah, bagaimana keringat dan darahnya telah membesarkanku, hingga dapat menjadi bagian darinya.
Sampai kupatrikan tulisan ini, rinduku padanya semakin memuncak. Mengalir tanpa henti, bertiup kencang menghempas segalanya. Kuputuskan untuk menunda semua langkah rutinitasku.
Esok, aku akan kembali untuknya, mamak.

