Mimpi
Siang itu langit kelabu. Satu persatu air dari langit turun, hujan. Kian lama kian deras. Aku pun tidak dapat melaju dengan sepeda motor itu. Aku terkurung di studio itu.
Sesekali kulihat ponselku. Menohok angka digital yang menunjukkan waktu. Memastikan kalau aku masih punya waktu untuk mengerjakan desain baru itu dikamar kos ku.
Kuputuskan untuk melangkah, “ayo…. kawan!” kupacu kuda besiku. Kupotong arah jalan, agar pintas aku melintas. Tampak mobil berat kuning melaju kencang. Aku mengelak, selamat. Kali ini lain lagi, aku berhadapan dengan mobil tanki berwarna biru, pasti ini pasokan minyak dari salah satu perusahaan.
Aku menepi, berjalan pelan. Deras hujan ini membuat pandanganku sedikit kabur dengan helm berkaca rayban. Sesaat aku seperti tak percaya, tercengang fana. Aku melihat sesuatu yang besar seperti tembok pembatas yang tinggi. Menghadang.. Rasanya tepat dibelakang kamar kos ku disana.
Aku memutar Honda itu, kembali ke studio “datang lagi…lagiii….” ku pacu dengan gas tinggi, tak peduli hari itu jalan licin karena jilatan air hujan. “Lailahaillallah…..Lailahaillallah…..” teriakku.
Sepertinya baru kali ini aku tau dahsyatnya bencana itu. Aku sadar kenapa ini dikatakan bencana terdahsyat. ia menyapu, meluluhlantak, habis, lapang. Beginikah rasanya dihempas, dibenam, diputar ombak. didalam air itu, aku ikut bergulung, pasrah… tak berdaya.
Aku terjaga, aku bermimpi.
Dalam beberapa saat, aku tak bergerak. Mengingat kembali bagaimana kuatnya hempasan itu. Meski hanya mimpi, tapi hatiku dapat merasakan, ini nyata.
Mimpi, yang membangunkanku dari hayalku. Terjaga dari saat-saat hidupku yang kian jauh. Benar apa kata orang bijak dulu, kebenaran tak hanya disampaikan oleh lisan yang kering tak lagi basah. Tapi ia bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah mimpi.
Ateisku,.. Alpaku,… Berhalaku,… hilang terhempas bersama mimpi air bah itu.
Sejenak aku berpikir, rencana Allah itu begitu indah. Hari itu membuatku sakit kepala yang memaksaku harus istirahat siang itu. Ia ingin membagiku sesuatu lewat mimpi itu. Ia ingin bercerita padaku. Kalau hanya Ia yang kupanggil kala itu. bukan keluarga, bukan harta, tapi Dia yang Esa, Allah.
Meski beberapa kali aku lupa padaNya. Walau sering aku sengaja melalaikan apa yang diperintahkanNya, Dia tetap sayang padaku. Mengajariku,… Lewat mimpi.