Archive for February, 2009

Sakit

Fenomena itu seperti tak masuk akal. Tampak samar tapi ada. Bertanda mistik tapi masih dipercaya. Dalam tiga minggu ini tak sedikit rupiah yang diraup orang-orang di perkampungan itu. Ponari, bocah kecil yang sekarang bak mesin pencetak ratusan bahkan miliaran rupiah bagi keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Mulanya ia adalah bocah biasa. Bermain layaknya anak-anak lain yang menjadi temannya. Dalam hitungan hari, kini ia (katanya) menjadi sakti. Hanya dengan batu kuning digenggamannya. Mengguncang Jombang dengan puluhan ribu warga yang sudi antre berbaris demi mencari rasa kesembuhan “instan” dari tangan sakti dukun cilik itu.

Bukan hanya itu. Beritanya juga mencuri perhatian masyarakat negeri ini. Mulai dari Komnas Perlindungan Anak yang menuntut kebebasan dukun yang masih bocah itu, hingga menyita waktu para manusia “super” di lembaga perwakilan rakyat yang sebagian sedang sibuk untuk kembali menebar pesona kepada masyarakat yang telah siap menanti janji-janji seperti beberapa tahun silam. Karena tak dapat dielakkan empat orang pun harus meregang nyawa karena panjangnya antrean demi mendapat berkah batu sakti itu.

Memang, kekuatan bocah kecil yang mereka percaya itu tak bisa dianggap remeh. Bagi mereka yang sakit bertahun-tahun, hanya berharap kesembuhan. Mereka yang berada disekeliling dukun Ponari, tentu menjadi ladang rezeki yang tak terduga kalau memang tak pantas dikatakan lahan bisnis bagi mereka. Mulai dari penjaga keamanan kampung, para penyedia tenda dan pondokan, perparkiran, sampai kepada orang yang mengendong dan yang menggerak-gerakkan tangan Ponari kedalam wadah air itu pasti menikmati rupiah yang dihasilkan kesaktian Ponari itu.

Namun, kalau ditilik lebih jauh. Inilah masyarakat sekarang. Semakin tak dapat dimengerti kalau memang bukan gila. Percaya hanya dengan genggaman batu dapat menyembuhkan penyakit. Percaya atau terpaksa? Apa karena mahalnya biaya pengobatan ? atau karena rendahnya kwalitas tenaga medis yang tidak mampu menangani penyakit yang telah lama melekat bersama mereka?

Hingga tulisan ini, telah muncul satu saingan dari Ponari si dukun cilik itu. Entah untuk sebuah popularitas, atau sebuah kepentingan yang dipandang sebatas keperluan ekonomi dari segelintir pihak.

Kembali, satu lagi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Untuk menyembuhkan orang-orang yang jiwanya sedang sakit dengan batu kesadaran sebenarnya.

No comment »

Pilihan

Wajahnya peluh, dengan tubuh kurus kering, matanya seperti ditekan kedalam dan mengembung dipinggir berwarna hitam bertanda tidak cukupnya mata itu dipejamkan. Dibawah pondok itu, disamping pematang yang ditumbuhi padi-padi yang dalam hitungan minggu akan menguning. Dengan pakaian lusuh, satu demi satu rumput itu ia lumatkan untuk makanan sapi yang berada disamping rumahnya itu.

Padahal, aku masih ingat. Jarak usia kami tak terlalu jauh. Ketika duduk di bangku sekolah tingkat dasar dulu. Ia kakak kelasku. Sering kami bermain bola sepak, bertaruh ratusan rupiah. “bertempur” diatas terik untuk sebuah harga diri bagi kami kala itu, menang taruhan.

Tapi kini, ia seperti orang tua bagiku. Hidup dengan seorang istri dan dua orang anak. Berjuang dengan keringat. Bekerja dari satu pematang ke pematang lainnya. Terkadang menyemai, satu waktu memanen. Diselang waktu mengikuti langkah kemana ayunan paculnya akan ia labuhkan. Dengan jasanya, ia menukar peluh itu dengan rupiah dari orang-orang yang merasa berlebih.

Bukan anjuran memang. Ia menekuni apa yang ia lakukan sekarang ini. Ia berjuang demi sebuah tanggung jawab. Ia menjadi kepala keluarga sekarang. Dulu, bisa jadi ia ingin meneruskan sekolahnya. Tapi aku bisa merasakan bagaimana keinginan itu terenggut oleh keadaan yang mereka alami. Bukan hanya dia, banyak dari orang-orang disekelilingku yang kini berkerja sebagai kuli panggul meski profesi petani yang lebih dominan. Profesi yang menuntut kesabaran yang amat tinggi.

Satu waktu, aku bersyukur. Tuhan memberiku sedikit lebih dari mereka. Tampak dari senyum dan raut air muka setiap kuhampiri mereka. Seakan-akan menaruh harap padaku. Kelak, siapa tahu.. aku bisa mengajak mereka bersamaku untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Bukankah Tuhan selalu ada bersama mereka?

Bisa jadi, ini memang takdir. Tapi bagiku takdir itu adalah pilihan yang telah dibuat kemudian ditentukan.

Disela-sela tumbukan tumpukan rumput itu semakin lumat. Aku teringat, panggilan hatiku semakin jelas. Ya, untuk mereka. Mungkin ini takdirku,pilihanku. Mungkin.

No comment »

Pesan

Tak lebih dari lima menit pagi itu. Matahari masih lagi belum menunjukkan cahaya senyumnya. Memang waktu yang tepat untuk membugarkan badan dan ragawi. Beberapa kali salam, ketukan demi ketukan. Ternyata wanita tua itu belum lagi terjaga sempurna. Nek Jamin, ia kupanggil.

Kawan, kalau engkau ingin tahu tentang Nek Jamin, bolehkan aku berbagi cerita denganmu sekarang. Tentang wanita tua yang kini semakin renta dibawa zaman.

Kalau dikaji lebih dalam, tentu aku tak memiliki pertalian darah dengannya. Namun, ketika aku kecil dulu, rumahku bedekatan dengan rumah kecilnya sekarang.Setelah beberapa tahun ditinggal mati suaminya. Kini ia hidup bersama seorang cucu. Kadar kesehatannya pun tak lagi sempurna. Mulai dari mata yang tak lagi jelas memandang, sampai lutut yang tak mampu lagi menahan tubuh yang telah menua.

Setiap kali aku “mudik”, kusempatkan untuk menyinggahinya. Sekedar untuk bercengkrama, menyambung nadi persaudaraan. Tak jarang beberapa lembar ringit kertas puluhan ribu kuberikan disela-sela cerita kami yang tak panjang. Setiap pemberian, tak lepas santun puji dan syukur ke haribaanNya. Inilah Nek Jamin.

Tentunya apa yang diberikan Nek Jamin dan keluarganya kala itu, tak akan mampu kutandingi dengan beberapa lembaran ringit yang sekarang menyelip di pawak (kain sarung yang dikenakan sebagai pengganti terusan baju) kanannya setiap aku datang ke rumah kecil itu.

Kawan, aku begitu dekat dengan wanita itu. Karena sebuah ingatan yang tak pernah lekang di benak ini. Disana, dirumah kecil itu. Terakhir aku melihat ayahandaku, terbaring kaku dan mengakhiri hayatnya. Disudut ruang yang hingga kini tak berubah.Dinding yang bertempel koran tahun 90-an itu masih melekat disana.

Kenangan itu begitu melekat. terasa ia hadir kembali. Ketika aku terjaga dari tidurku. Dipangkuan Ibuku. Deru tangis beberapa orang. Meratapi kepergian anak, abang, adik, keponakan, cucu, juga ayah bagiku. Masih buram bagiku saat itu. Padahal, aku didudukkan bersama jenazah ayahku yang kemudian akan dimandikan diwaktu subuh.

Semoga, rumah kecil ini dapat mengingatkanku akan kenangan indah itu. Pertemuan sekaligus perpisahan. Antara anak dan ayah, semoga.

No comment »