Pesan
Tak lebih dari lima menit pagi itu. Matahari masih lagi belum menunjukkan cahaya senyumnya. Memang waktu yang tepat untuk membugarkan badan dan ragawi. Beberapa kali salam, ketukan demi ketukan. Ternyata wanita tua itu belum lagi terjaga sempurna. Nek Jamin, ia kupanggil.
Kawan, kalau engkau ingin tahu tentang Nek Jamin, bolehkan aku berbagi cerita denganmu sekarang. Tentang wanita tua yang kini semakin renta dibawa zaman.
Kalau dikaji lebih dalam, tentu aku tak memiliki pertalian darah dengannya. Namun, ketika aku kecil dulu, rumahku bedekatan dengan rumah kecilnya sekarang.Setelah beberapa tahun ditinggal mati suaminya. Kini ia hidup bersama seorang cucu. Kadar kesehatannya pun tak lagi sempurna. Mulai dari mata yang tak lagi jelas memandang, sampai lutut yang tak mampu lagi menahan tubuh yang telah menua.
Setiap kali aku “mudik”, kusempatkan untuk menyinggahinya. Sekedar untuk bercengkrama, menyambung nadi persaudaraan. Tak jarang beberapa lembar ringit kertas puluhan ribu kuberikan disela-sela cerita kami yang tak panjang. Setiap pemberian, tak lepas santun puji dan syukur ke haribaanNya. Inilah Nek Jamin.
Tentunya apa yang diberikan Nek Jamin dan keluarganya kala itu, tak akan mampu kutandingi dengan beberapa lembaran ringit yang sekarang menyelip di pawak (kain sarung yang dikenakan sebagai pengganti terusan baju) kanannya setiap aku datang ke rumah kecil itu.
Kawan, aku begitu dekat dengan wanita itu. Karena sebuah ingatan yang tak pernah lekang di benak ini. Disana, dirumah kecil itu. Terakhir aku melihat ayahandaku, terbaring kaku dan mengakhiri hayatnya. Disudut ruang yang hingga kini tak berubah.Dinding yang bertempel koran tahun 90-an itu masih melekat disana.
Kenangan itu begitu melekat. terasa ia hadir kembali. Ketika aku terjaga dari tidurku. Dipangkuan Ibuku. Deru tangis beberapa orang. Meratapi kepergian anak, abang, adik, keponakan, cucu, juga ayah bagiku. Masih buram bagiku saat itu. Padahal, aku didudukkan bersama jenazah ayahku yang kemudian akan dimandikan diwaktu subuh.
Semoga, rumah kecil ini dapat mengingatkanku akan kenangan indah itu. Pertemuan sekaligus perpisahan. Antara anak dan ayah, semoga.