Pilihan
Wajahnya peluh, dengan tubuh kurus kering, matanya seperti ditekan kedalam dan mengembung dipinggir berwarna hitam bertanda tidak cukupnya mata itu dipejamkan. Dibawah pondok itu, disamping pematang yang ditumbuhi padi-padi yang dalam hitungan minggu akan menguning. Dengan pakaian lusuh, satu demi satu rumput itu ia lumatkan untuk makanan sapi yang berada disamping rumahnya itu.
Padahal, aku masih ingat. Jarak usia kami tak terlalu jauh. Ketika duduk di bangku sekolah tingkat dasar dulu. Ia kakak kelasku. Sering kami bermain bola sepak, bertaruh ratusan rupiah. “bertempur” diatas terik untuk sebuah harga diri bagi kami kala itu, menang taruhan.
Tapi kini, ia seperti orang tua bagiku. Hidup dengan seorang istri dan dua orang anak. Berjuang dengan keringat. Bekerja dari satu pematang ke pematang lainnya. Terkadang menyemai, satu waktu memanen. Diselang waktu mengikuti langkah kemana ayunan paculnya akan ia labuhkan. Dengan jasanya, ia menukar peluh itu dengan rupiah dari orang-orang yang merasa berlebih.
Bukan anjuran memang. Ia menekuni apa yang ia lakukan sekarang ini. Ia berjuang demi sebuah tanggung jawab. Ia menjadi kepala keluarga sekarang. Dulu, bisa jadi ia ingin meneruskan sekolahnya. Tapi aku bisa merasakan bagaimana keinginan itu terenggut oleh keadaan yang mereka alami. Bukan hanya dia, banyak dari orang-orang disekelilingku yang kini berkerja sebagai kuli panggul meski profesi petani yang lebih dominan. Profesi yang menuntut kesabaran yang amat tinggi.
Satu waktu, aku bersyukur. Tuhan memberiku sedikit lebih dari mereka. Tampak dari senyum dan raut air muka setiap kuhampiri mereka. Seakan-akan menaruh harap padaku. Kelak, siapa tahu.. aku bisa mengajak mereka bersamaku untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Bukankah Tuhan selalu ada bersama mereka?
Bisa jadi, ini memang takdir. Tapi bagiku takdir itu adalah pilihan yang telah dibuat kemudian ditentukan.
Disela-sela tumbukan tumpukan rumput itu semakin lumat. Aku teringat, panggilan hatiku semakin jelas. Ya, untuk mereka. Mungkin ini takdirku,pilihanku. Mungkin.