Sakit

Fenomena itu seperti tak masuk akal. Tampak samar tapi ada. Bertanda mistik tapi masih dipercaya. Dalam tiga minggu ini tak sedikit rupiah yang diraup orang-orang di perkampungan itu. Ponari, bocah kecil yang sekarang bak mesin pencetak ratusan bahkan miliaran rupiah bagi keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Mulanya ia adalah bocah biasa. Bermain layaknya anak-anak lain yang menjadi temannya. Dalam hitungan hari, kini ia (katanya) menjadi sakti. Hanya dengan batu kuning digenggamannya. Mengguncang Jombang dengan puluhan ribu warga yang sudi antre berbaris demi mencari rasa kesembuhan “instan” dari tangan sakti dukun cilik itu.

Bukan hanya itu. Beritanya juga mencuri perhatian masyarakat negeri ini. Mulai dari Komnas Perlindungan Anak yang menuntut kebebasan dukun yang masih bocah itu, hingga menyita waktu para manusia “super” di lembaga perwakilan rakyat yang sebagian sedang sibuk untuk kembali menebar pesona kepada masyarakat yang telah siap menanti janji-janji seperti beberapa tahun silam. Karena tak dapat dielakkan empat orang pun harus meregang nyawa karena panjangnya antrean demi mendapat berkah batu sakti itu.

Memang, kekuatan bocah kecil yang mereka percaya itu tak bisa dianggap remeh. Bagi mereka yang sakit bertahun-tahun, hanya berharap kesembuhan. Mereka yang berada disekeliling dukun Ponari, tentu menjadi ladang rezeki yang tak terduga kalau memang tak pantas dikatakan lahan bisnis bagi mereka. Mulai dari penjaga keamanan kampung, para penyedia tenda dan pondokan, perparkiran, sampai kepada orang yang mengendong dan yang menggerak-gerakkan tangan Ponari kedalam wadah air itu pasti menikmati rupiah yang dihasilkan kesaktian Ponari itu.

Namun, kalau ditilik lebih jauh. Inilah masyarakat sekarang. Semakin tak dapat dimengerti kalau memang bukan gila. Percaya hanya dengan genggaman batu dapat menyembuhkan penyakit. Percaya atau terpaksa? Apa karena mahalnya biaya pengobatan ? atau karena rendahnya kwalitas tenaga medis yang tidak mampu menangani penyakit yang telah lama melekat bersama mereka?

Hingga tulisan ini, telah muncul satu saingan dari Ponari si dukun cilik itu. Entah untuk sebuah popularitas, atau sebuah kepentingan yang dipandang sebatas keperluan ekonomi dari segelintir pihak.

Kembali, satu lagi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Untuk menyembuhkan orang-orang yang jiwanya sedang sakit dengan batu kesadaran sebenarnya.

Say your words